Nevada Dj Ghost X Dari Yang Muda Ke Tua

Nevada Dj Ghost X Dari Yang Muda Ke Tua

Dj Pop x Ojo Dibandingke20223:00

Payment Processing...

Payment is being processed by . Please wait while the order is being comfirmed.

Dj Pop x Ojo Dibandingke20223:00

DJ SANFONAMIX BARA BERE X ADA POKEMON API

Ikan tongkol adalah salah satu jenis ikan yang juga bisa disebut dengan ikan cakalang atau ikan tuna dan masyarakat Indonesia bisa dengan mudah mendapatkan jenis ikan ini. Terdiri dari 2 jenis, yaitu ikan tongkol pindang dan ikan tongkol segar, ada banyak khasiat yang diberikan oleh keduanya bagi pengonsumsinya, termasuk para calon ibu. Seperti juga manfaat ikan bagi ibu hamil, manfaat ikan tongkol bagi ibu hamil cukup banyak karena di dalam ikan ini terdapat kandungan nutrisi tinggi, seperti mineral, vitamin, lemak dan protein seperti juga yang terkandung pada manfaat kacang hijau bagi ibu hamil.

1. Memberikan Perlindungan pada Saluran Pencernaan

Ikan tongkol adalah jenis ikan yang juga kaya akan kandungan omega-3 seperti halnya manfaat ikan tuna bagi ibu hamil di mana hal ini sangat berguna untuk memberikan perlindungan pada saluran pencernaan. Dengan mengonsumsi ikan tongkol, maka risiko terjadinya kanker di area organ pencernaan akan dapat dikurangi. Kanker ovarium yang juga menjadi momok bagi para wanita akan dicegah dengan baik.

2. Mendetoksifikasi Organ Hati

Ikan tongkol diketahui memiliki kandungan selenium yang akan sangat membantu dalam menjaga kesehatan organ hati. Seperti yang diketahui seperti juga manfaat daun katuk bagi ibu hamil, organ satu ini berperan vital dalam melakukan detoksifikasi agar segala racun yang ada di dalam tubuh dapat dikeluarkan. Para ibu hamil yang ingin membuat proses detoksifikasi lancar dan mudah dapat memanfaatkan ikan tongkol dengan mengonsumsinya pada porsi yang tepat.

3. Membuat Jantung Terjaga Kesehatannya

Lagi-lagi kandungan omega-3 dapat membuat para ibu hamil memiliki jantung yang senantiasa sehat.Karena baik bagi jantung, tentu kesehatan janin, perkembangan janin dan pembentukan organ pada janin akan berlangsung sempurna dengan mengonsumsi ikan tongkol. Detak jantung akan selalu dijaga oleh kandungan omega-3 sehingga risiko serangan jantung pun akan semakin kecil.

4. Menurunkan Risiko Kurang Darah

Anemia pada ibu hamil merupakan satu kondisi yang paling sering terjadi. Seorang ibu hamil dikatakan mengalami anemia apabila mudah terserang bermacam-macam penyakit seperti penyakit gondok pada ibu hamil dan penyakit lain, wajah tampak pucat, menurunnya daya tahan tubuh, mudah merasa lemas, lemah, lesu dan letih, ibu hamil cepat lelah, serta terasa pegal-pegal di bagian sendi.

Kandungan zat besi pada ikan tongkol seperti yang juga ada pada manfaat blueberry untuk ibu hamil akan menyelamatkan Anda dari anemia ketika hamil, namun pastikan bahwa pengolahannya bukan dengan menggoreng melainkan direbus membuatnya menjadi semacam sup agar nutrisinya tidak hilang.

Ibu hamil pun dapat mengalami rematik di mana tanda-tandanya adalah terasa sakit dan nyeri di bagian tubuh tertentu. Daripada mengonsumsi obat-obatan yang belum tentu baik untuk pertumbuhan janin, cobalah untuk mengonsumsi ikan tongkol walau porsinya pun tidak boleh berlebih. Proses penyembuhan rematik akan didukung oleh ikan tongkol dengan pengolahan yang bisa disesuaikan dengan selera masing-masing, baik itu di balado, dibuat sup, digoreng atau dicampur dengan masakan lain (mie goreng atau nasi goreng).

Omega-3 di dalam ikan tongkol sangat kaya akan manfaat yang juga telah dibuktikan melalui penelitian oleh John Hopkins School of Medicine. Risiko AMD atau Age Macular Disease akan dapat dikurangi. Penyakit ini merupakan penyakit yang menyerang mata ketika seseorang beranjak tua. Dengan bukti tersebut, maka bisa dipastikan ikan tongkol dengan kandungan omega-3 seperti juga vitamin A pada manfaat wortel untuk ibu hamil diyakini ampuh untuk menjaga kesehatan mata para ibu hamil sehingga mata akan terhindar dari kerusakan pada masa kehamilan serta setelah persalinan.

7. Mendukung Pertumbuhan Janin

Dengan kandungan protein di dalam ikan tongkol, jelas bahwa ikan ini akan sangat berguna dalam membantu membangun, membentuk dan memperbaiki jaringan tubuh pada janin selama masa perkembangannya di dalam perut sang ibu. Proses pembentukan hati, jantung, kulit, mata dan otot akan semakin sempurna sehingga risiko kelainan jantung pada bayi baru lahir dan kelainan lain semakin berkurang. Pembentukan sel-sel janin pun akan terjadi tanpa hambatan berikut cairan ketubannya. Lebih penting lagi di sini adalah bahwa pertumbuhan plasenta dan jaringan serta otak juga didukung oleh protein dari ikan tongkol.

8. Menyehatkan Tulang

Selain berguna menguatkan sendi dan otot pada ibu hamil, protein yang ada di dalam ikan tongkol bila masuk ke dalam tubuh akan membantu membuat tulang ibu hamil lebih sehat.

Bayi di dalam kandungan juga akan merasakan dampak baiknya sehingga kesehatan janin terjaga.

9. Mengembangkan Kemampuan Kognitif Bayi

Dalam masa perkembangannya di dalam perut, bayi memerlukan asupan nutrisi yang lengkap dan cukup dari makanan yang dikonsumsi ibunya. Ikan tongkol seperti juga ikan salmon untuk ibu hamil adalah pilihan makanan tepat untuk membuat kemampuan kognitif jabang bayi meningkat. Omega-3 pada ikan jenis ini berperan sangat vital dan menguntungkan bagi para calon ibu yang ingin memiliki anak yang cerdas. Sehingga merupakan salah satu cara membuat anak cerdas sejak dalam kandungan

Efek Samping Ikan Tongkol bagi Ibu Hamil

Sekalipun ada segudang khasiat yang dimiliki dan diberikan oleh ikan tongkol, mengonsumsinya dalam jumlah banyak dan terlalu sering juga akan berpengaruh terhadap kesehatan ibu serta janin. Berikut merupakan sejumlah efek samping yang wajib diwaspadai.

Ikan tongkol sangat mudah terpapar merkuri dan karena hidupnya pun di perairan laut, maka kemungkinan dapat tercemar. Logam jahat dapat terkandung di dalam ikan tongkol dan hal ini tidaklah baik untuk pertumbuhan janin. Itulah mengapa penting untuk mengetahui apakah ikan tongkol ditangkap dari perairan dengan lingkungan yang bersih. Kalau ikan tongkol didapat dari perairan tercemar bisa jadi makanan sehat ini berubah menjadi makanan berbahaya bagi ibu hamil.

Karena di dalam ikan tongkol terdapat protein, maka sifatnya sebagai alergen patut untuk diantisipasi, seperti halnya makanan lain dengan protein tinggi, yaitu kacang-kacangan termasuk dari manfaat buncis bagi ibu hamil, daging ayam serta ketika ibu hamil mengambil manfaat udang.

Tips Mengonsumsi Ikan Tongkol

Sultan Iskandar Muda (Aksara Jawoë : سلطان إسكندر مودا) (Lahir di Bandar Aceh Darussalam, Kesultanan Aceh, 1590 atau 1593[2] – wafat di Bandar Aceh Darussalam, Kesultanan Aceh, 27 Desember 1636)[3] merupakan sultan yang paling besar dalam masa Kesultanan Aceh, yang berkuasa dari tahun 1607[4]

sampai 1636.[5] Sultan Iskandar Muda masih merupakan garis keturunan laki-laki dari pendiri Kesultanan Aceh Darussalam yaitu Sultan Ali Mughayat Syah sekaligus keturunan laki-laki terakhir dari Dinasti Meukuta Alam yang bertakhta sebagai Sultan Aceh. Aceh mencapai kejayaannya pada masa kepemimpinan Iskandar Muda, di mana daerah kekuasaannya yang semakin besar dan reputasi internasional sebagai pusat dari perdagangan dan pembelajaran tentang Islam.[2] Beliau juga pernah melakukan serangan terhadap Portugis, tetapi serangan tersebut tidak berhasil, meskipun begitu Aceh tetap merupakan kerajaan yang merdeka. Namanya kini diabadikan untuk Universitas Iskandar Muda, Kodam Iskandar Muda dan Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda di Banda Aceh. beliau dikenal sangat piawai dalam membangun Kerajaan Aceh Darussalam.[6][7]

Dari pihak leluhur ibu, Iskandar Muda adalah keturunan dari Raja Darul-Kamal, dan dari pihak leluhur ayah merupakan keturunan dari keluarga Raja Makota Alam. Darul-Kamal dan Makota Alam dikatakan dahulunya merupakan dua tempat permukiman bertetangga (yang terpisah oleh sungai) dan yang gabungannya merupakan asal mula Aceh Darussalam. Iskandar Muda seorang diri mewakili kedua cabang itu, yang berhak sepenuhnya menuntut takhta.[5]

Ibunya, bernama Putri Raja Indra Bangsa, yang juga dinamai Paduka Syah Alam, adalah anak dari Sultan Alauddin Riayat Syah, Sultan Aceh ke-10; di mana sultan ini adalah putra dari Sultan Firman Syah, dan Sultan Firman Syah adalah anak atau cucu (menurut Djajadiningrat) Sultan Inayat Syah, Raja Darul-Kamal.[5]

Putri Raja Indra Bangsa menikah dengan upacara besar-besaran dengan Sultan Mansur Syah, putra dari Sultan Abdul-Jalil, di mana Abdul-Jalil adalah putra dari Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahhar, Sultan Aceh ke-3.[5] Sampai dengan meninggalnya Sultan Iskandar Muda di tahun 1636, beliau merupakan penguasa Aceh keturunan terakhir dari Dinasti Meukuta Alam pendiri Kesultanan Aceh yang bertakhta.

Sri Sultan Iskandar Muda kemudian menikah dengan seorang Putri dari Kesultanan Pahang. Putri ini dikenal dengan nama Putroe Phang. Konon, karena terlalu cintanya sang Sultan dengan istrinya, Sultan memerintahkan pembangunan Gunongan di tengah Medan Khayali (Taman Putroe Phang) sebagai tanda cintanya. Kabarnya, sang puteri selalu sedih karena memendam rindu yang amat sangat terhadap kampung halamannya yang berbukit-bukit. Oleh karena itu Sultan membangun Gunongan untuk mengubati rindu sang puteri. Hingga saat ini Gunongan masih dapat disaksikan dan dikunjungi.[8][9]

Putri Pahang dalam istana Darud Dunia tidak hanya sebagai Permaisuri, juga menjadi penasehat bagi suaminya Sultan Iskandar Muda. Salah satunya nasehatnya adalah pembentukan Majelis Syura (Parlemen) yang beranggotakan 73 orang sebagai perwakilan penduduk dalam kerajaan Aceh.[10]

Sebagai penghormatan kepada Putroe Phang sebuah Hadih Maja (Kata-kata berhikmat) yang berbunyi:

Adat bak Poteu Meureuhom,

Hukom bak Syiah Kuala,

Kanun bak Putroe Phang,

Reusam bak Laksamana,

Hukom ngon adat lagee zat ngon sifuet,

Hadih Maja ini adalah ajaran tentang pembagian kekuasaan dalam kerajaan Aceh Darussalam3), yang bermakna:

Masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda yang dimulai pada tahun 1607 sampai 1636, merupakan masa paling gemilang bagi Kesultanan Aceh, walaupun di sisi lain kontrol ketat yang dilakukan oleh Iskandar Muda, menyebabkan banyak pemberontakan di kemudian hari setelah mangkatnya Sultan.

Aceh merupakan negeri yang amat kaya dan makmur pada masa kejayaannya. Menurut seorang penjelajah asal Prancis yang tiba pada masa kejayaan Aceh pada zaman Sultan Iskandar Muda Meukuta Perkasa Alam, kekuasaan Aceh mencapai pesisir barat Minangkabau. Kekuasaan Aceh pula meliputi hingga Perak.

Ketika Iskandar Muda mulai berkuasa pada tahun 1607, ia segera melakukan ekspedisi angkatan laut yang menyebabkan ia mendapatkan kontrol yang efektif di daerah barat laut Indonesia.[2] Kendali kerajaan terlaksana dengan lancar di semua pelabuhan penting di pantai barat Sumatra dan di pantai timur, sampai ke Asahan di selatan. Pelayaran penaklukannya dilancarkan sampai jauh ke Penang, di pantai timur Semenanjung Melayu, dan pedagang asing dipaksa untuk tunduk kepadanya. Kerajaannya kaya raya, dan menjadi pusat ilmu pengetahuan.[12]

Menurut tradisi Aceh, Iskandar Muda membagi wilayah Aceh ke dalam wilayah administrasi yang dinamakan ulèëbalang dan mukim; ini dipertegas oleh laporan seorang penjelajah Prancis bernama Beauliu, bahwa "Iskandar Muda membabat habis hampir semua bangsawan lama dan menciptakan bangsawan baru." Mukim1 pada awalnya adalah himpunan beberapa desa untuk mendukung sebuah masjid yang dipimpin oleh seorang Imam (Aceh: Imeum). Ulèëbalang (Melayu: Hulubalang) pada awalnya barangkali bawahan-utama Sultan, yang dianugerahi Sultan beberapa mukim, untuk dikelolanya sebagai pemilik feodal. Pola ini djumpai di Aceh Besar dan di negeri-negeri taklukan Aceh yang penting.[12][13]

Kekuasaan Imperialisme Eropa yang pertama datang ke Asia Tenggara adalah Portugis, pada tahun 1511 menaklukkan Malaka. Portugis kemudian menaklukkan Samudera Pasai (1521) dan memperluas pengaruhnya di Selat Malaka. Akan tetapi dari Utara Sumatera muncul lawan sepadan Aceh Darussalam, konflik berlangsung ratusan tahun dan akhirnya Sultan Aceh terbesar Iskandar Muda lahir dan pertarungan kian dahsyat. Sebagaimana diceritakan dalam Sejarah Pahang.[14]

“Dalam bulan Juli 1613, Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam, Raja Aceh yang masyhur gagah perkasanya itu, telah menghantar suatu angkatan perang laut yang besar datang menyerang dan mengalahkan Negeri Johor, Batu Sawar dan Kota Seberang. Bandar-bandar utama di Negeri Johor masa itu telah diduduki oleh orang-orang Aceh. Mengikut setengah sumber, Iskandar Muda sendiri mengepalakan Angkatan Perang Aceh yang menyerang Negeri Johor itu. Sultan Alauddin Riayat Syah III, adinda baginda Raja Abdullah serta Bendahara (Perdana Menteri) Johor Tun Sri Lanang dan beberapa ramai pengiring-pengiring Sultan Johor telah ditawan dan dibawa ke Negeri Aceh…”

Setelah beberapa tahun di Aceh, Sultan Alauddin Riayat Syah III berjanji tidak akan lagi membantu Portugis yang telah menduduki Malaka, maka Sultan Iskandar Muda membebaskan Sultan Alauddin dan diantar kembali serta ditabalkan kembali sebagai Sultan Johor. Akan tetapi ternyata Sultan Alauddin Riayatsyah III ternyata berkhianat dan bekerjasama dengan Portugis untuk memperluas jajahan mereka di Semenanjung Melayu. Alauddin membantu Portugis untuk mengangkat Raja Bujang menjadi Raja Pahang. Raja Bujang sebelumnya adalah seorang pangeran Pahang yang telah bersumpah setia kepada Portugis.[15] Maka, September 1615. Sultan Iskandar Muda menyerang Johor kembali dengan angkatan perang yang besar, Sultan Alauddin ditangkap dan dibawa (lagi) ke Aceh sampai meninggal. Serangan armada Aceh Darussalam dilanjutkan ke Pahang sebagaimana yang dituliskan oleh Haji Buyong Adil:

“Oleh sebab orang Portugis telah menolong Sultan Johor menaikkan Raja Bujang menduduki Kerajaan Negeri Pahang, pada tahun 1617 Sultan Aceh telah mengeluarkan Angkatan Perang Aceh menyerang Negeri Pahang dan laskar-laskar Aceh yang datang itu telah membinasakan daerah di Negeri Pahang. Raja Bujang melarikan diri, sementara ayah mertuanya, Raja Ahmad, dan putranya yang bermana Raja Mughal serta 10.000 rakyat negeri Pahang ditawan ditahan dan dibawa ke Negeri Aceh. Seorang pitri dari keluarga diraja Pahang, yang bernama Putri Kamaliah, juga turut dibawa ke Aceh, yang kemudian diperistri oleh Sultan Iskandar Muda Meukuta Alam, dan Putri Pahang itu termasyur dalam sejarah Aceh karena kebijaksanaannya dan disebut oleh orang-orang Aceh Putroe Phang…”

Pada abad ke-16, Ratu Inggris, Elizabeth I, mengirimkan utusannya bernama Sir James Lancester kepada Kerajaan Aceh dan mengirim surat yang ditujukan: "Kepada Saudara Hamba, Raja Aceh Darussalam." serta seperangkat perhiasan yang tinggi nilainya. Sultan Aceh kala itu menerima maksud baik "saudarinya" di Inggris dan mengizinkan Inggris untuk berlabuh dan berdagang di wilayah kekuasaan Aceh. Bahkan Ratu Elizabeth I juga mengirim hadiah-hadiah yang berharga termasuk sepasang gelang dari batu rubi dan surat yang ditulis di atas kertas yang halus dengan tinta emas. Sir James pun dianugerahi gelar "Orang Kaya Putih".[5]

Sultan Aceh pun membalas surat dari Ratu Elizabeth I. Berikut cuplikan isi surat Sultan Aceh, yang masih disimpan oleh pemerintah kerajaan Inggris, tertanggal tahun 1585:

Hubungan yang mesra antara Aceh dan Inggris dilanjutkan pada masa Raja James I dari Inggris dan Skotlandia. Raja James mengirim sebuah meriam sebagai hadiah untuk Sultan Aceh. Meriam tersebut hingga kini masih terawat dan dikenal dengan nama Meriam Raja James.[16]

Selain Kerajaan Inggris, Pangeran Maurits – pendiri dinasti Oranje– juga pernah mengirim surat dengan maksud meminta bantuan Kesultanan Aceh Darussalam. Sultan menyambut maksud baik mereka dengan mengirimkan rombongan utusannya ke Belanda. Rombongan tersebut dipimpin oleh Tuanku Abdul Hamid.[17]

Rombongan inilah yang dikenal sebagai orang Indonesia pertama yang singgah di Belanda. Dalam kunjungannya Tuanku Abdul Hamid sakit dan akhirnya meninggal dunia. Ia dimakamkan secara besar-besaran di Belanda dengan dihadiri oleh para pembesar-pembesar Belanda. Namun karena orang Belanda belum pernah memakamkan orang Islam, maka ia dimakamkan dengan cara agama Nasrani di pekarangan sebuah gereja. Kini di makam ia terdapat sebuah prasasti yang diresmikan oleh Mendiang Yang Mulia Pangeran Bernhard suami mendiang Ratu Juliana dan Ayah Yang Mulia Ratu Beatrix.

Pada masa Iskandar Muda, Kerajaan Aceh mengirim utusannya untuk menghadap Sultan Utsmaniyah yang berkedudukan di Konstantinopel. Karena saat itu Sultan Utsmaniyah sedang gering maka utusan Kerajaan Aceh terluntang-lantung demikian lamanya sehingga mereka harus menjual sedikit demi sedikit hadiah persembahan untuk kelangsungan hidup mereka. Lalu pada akhirnya ketika mereka diterima oleh sang Sultan, persembahan mereka hanya tinggal Lada Sicupak atau Lada sekarung. Namun sang Sultan menyambut baik hadiah itu dan mengirimkan sebuah meriam dan beberapa orang yang cakap dalam ilmu perang untuk membantu kerajaan Aceh. Meriam tersebut pula masih ada hingga kini dikenal dengan nama Meriam Lada Sicupak. Pada masa selanjutnya Sultan Ottoman mengirimkan sebuah bintang jasa kepada Sultan Aceh.[18]

Kerajaan Aceh juga menerima kunjungan utusan Kerajaan Prancis. Utusan Raja Prancis tersebut semula bermaksud menghadiahkan sebuah cermin yang sangat berharga bagi Sultan Aceh. Namun dalam perjalanan cermin tersebut pecah. Akhirnya mereka mempersembahkan serpihan cermin tersebut sebagai hadiah bagi sang Sultan. Dalam bukunya, Denys Lombard mengatakan bahwa Sultan Iskandar Muda amat menggemari benda-benda berharga.[5]

Pada masa itu, Kerajaan Aceh merupakan satu-satunya kerajaan Melayu yang memiliki Balee Ceureumeen atau Aula Kaca di dalam Istananya. Menurut Utusan Prancis tersebut, Istana Kesultanan Aceh luasnya tak kurang dari dua kilometer. Istana tersebut bernama Istana Dalam Darud Donya (kini Meuligoe Aceh, kediaman Gubernur). Di dalamnya meliputi Medan Khayali dan Medan Khaerani yang mampu menampung 300 ekor pasukan gajah. Sultan Iskandar Muda juga memerintahkan untuk menggali sebuah kanal yang mengaliri air bersih dari sumber mata air di Mata Ie hingga ke aliran Sungai Krueng Aceh di mana kanal tersebut melintasi istananya, sungai ini hingga sekarang masih dapat dilihat, mengalir tenang di sekitar Meuligoe. Di sanalah sultan acap kali berenang sambil menjamu tetamu-tetamunya.

Selama 30 tahun masa pemerintahannya (1606 - 1636 SM) Sultan Iskandar Muda telah membawa Kerajaan Aceh Darussalam dalam kejayaan. Saat itu, kerajaan ini telah menjadi kerajaan Islam kelima terbesar di dunia setelah kerajaan Islam Maroko, Isfahan, Persia dan Agra. Seluruh wilayah semenanjung Melayu telah disatukan di bawah kerajaannya dan secara ekonomi Kerajaan Aceh Darussalam telah memiliki hubungan diplomasi perdagangan yang baik secara internasional.

Rakyat Aceh pun mengalami kemakmuran dengan pengaturan yang mencakup seluruh aspek kehidupan, yang dibuat oleh Iskandar Muda. pada tanggal 14 September 1993, pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Iskandar Muda atas jasa dan kejayaannya membangun dasar-dasar penting hubungan ketatanegaraan dan atas keagungan beliau.[19]

Bahkan beberapa tempat menggunakan nama Sultan Iskandar Muda, antara lain ;

1 Komunitas Muslim yang dapat mengerahkan 40 orang laki-laki, jumlah minimum yang diperlukan untuk melakukan salat Jumat menurut fikih Mazhab Syafi'i.